Minggu, 29 April 2012
MERAYAKAN CINTA DAN KEHIDUPAN WEEK END MORAL PBSID – USD SEMESTER II
Sabtu, 06 September 2008
Spirit Moment 3
Mengapa “THE SENSE OF ART?”
Setelah SM 1 yang bertema “THE SOUL OF THE YOUTH” dan SM 2 yang bertema “THE LEADERSHIP MOMENT” SM 3 menghadirkan sebuah sisi kehidupan yang sangat inovatif yaitu SENI HIDUP “THE SENSE OF ART” dalam membina persaudaraan sebagai sesama OMK. Seni itu melampaui batas-batas yang kaku oleh situasi jarak, tidak kenal, beda pendapat, dan lain-lain. Justru, yang lebih meluap adalah semangat hidup bersama, mencari hal-hal yang sama, memperluas seni hidup dalam Kristus sebagai OMK.
Apa yang ada dalam “THE SENSE OF ART”

Ada dua hal yang akan dikembangkan dalam “THE SENSE OF ART” yaitu: heart fulfillment [pemenuhan hati] dan hug dynamics [dinamika menyatu].
1. Heart Fulfillment [pemenuhan hati] adalah sebuah metode yang mengarah pada sentuhan hati, mencoba merasa apa yang dirasakan oleh sesama, kendati jarang, tidak pernah bertemu.
2. HUG Dynamics [Heart – Ultimate – Gratitude] mengarahkan setiap peserta pada nilai-nilai tertinggi dan terbaik dalam hidup [appreciation of kindness].
Tujuan “SENSE OF ART”
1. Membangun kebersamaan yang cerdas dan cepat antar para peserta yang kemungkinan jarang bertemu atau tidak bertemu sama sekali.
2. Membangun komitmen-komitmen bersama dan dilakukan bersama tanpa kecuali. Sehingga setiap peserta memiliki bahasa yang sama dan tindakan yang sama untuk mencapai tujuan bersama.
3. Membangkitkan “seni” hidup dalam membuka komunikasi dua arah antar para peserta, agar tidak kaku dengan mencoba menjadi komunikator awal dalam setiap pertemuan.
4. Membangun persahabatan yang dalam agar rasa sebagai OMK melekat dan dihidupi bersama sekaligus membuat jembatan atas kegagapan yang ada.
Catatan:
1. Semua peserta harus mempersiapkan perlengkapan pakaian dan juga obat-obatan khusus yang perlu.
2. Semua peserta akan memiliki komitmen yang sama dalam melakukan setiap kegiatan. Maka, sangat diharapkan agar tujuan berkumpul bukanlah mejeng atau sejenisnya, sebab jika itu terjadi maka mending [maaf-maaf saja] mencari kegiatan lain.
3. Tetapi sangat dijamin, rekan-rekan muda pasti akan terperanjat dan terkagum-kagum dengan kegiatan ini. Sebab, setiap Spirit Moment akan berbeda metodenya.
Senin, 07 Juli 2008
Spirit Moment 2:
By. DS. Oll. Yarman Zb.
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. [I Korintus 13:11]
Segala sesuatu ada waktunya. Inilah ucapan yang sangat terkenal dari seorang bijak dalam pengkhotbah yang mampu menangkap setiap kesempatan dan menjadikannya tidak sia-sia. Saat muda pun merupakan kesempatan untuk menjadikan hidup ini lebih bermakna dan menjadi berkat untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Namun, selalu ada miss link yang menjadikan setiap kesempatan berubah menjadi keengganan untuk berbuat lebih dan menjadikannya lebih menarik. Miss link tersebut bisa saja seperti kesadaran religiusitas orang muda yang mengarah pada hal-hal yang instant - tidak masuk dalam kedalaman, menginginkan hal yang menarik tetapi mudah patah arang, pesimis dan enggan menjadi perintis, enggan untuk berkorban, enggan untuk keluar dari lingkaran diri yang sudah mereka bentuk sendiri. Lingkaran diri inilah yang akhirnya mengontrol setiap tindakan orang muda yang berujung pada memproduksi asumsi-asumsi bahkan membuat benteng diri sendiri. Lingkaran diri ini terlontar dari setiap kata-kata orang muda ”ah, masa bergabung sama anak-anak SMP sih?”, malu ah, saya biasanya jadi fasilitator sekarang kog jadi peserta?”. Begitu banyak kata-kata ini yang sadar atau tidak membuat orang muda mandeg untuk bergabung, bersikap lugas, dan akhirnya mengambil jarak. Pernyataan ini bukanlah narasi semata. Civita Youth Camp kembali mengadakan kegiatan Spirit Moment 2 pada 28-29 Juni 2008. Kegiatan ini diarahkan pada bagaimana mengarahkan diri pada hal-hal positif dan bisa menjadi leader untuk rekan-rekan muda lainnya.
Menjadi Pribadi Positif
Jatuh bangun merupakan warna hidup kita. Namun, ada kecenderungan saat kita jatuh kita buru-buru berprasangka negatif akan apapun yang ada di luar diri kita. Kita secara tidak sadar mengarahkan diri kita pada benteng yang mengharuskan diri kita benar dan orang lain yang salah. Kita berkutat pada menyalahkan orang lain dan bukannya bangkit dari kejatuhan kita. Selalu ada alasan untuk menyalahkan bagi mereka yang enggan untuk mengubah diri tetapi selalu ada jalan bagi mereka yang mencoba menemukan hal-hal yang baru. Menjadi pribadi positif ini diuraikan secara lugas dan menarik oleh Bapak Carolus Veriyadi S., seorang Staf Pengurangan Dampak Penggunaan Jarum Suntik [Harm Reduction] PKBI DKI Jakarta yang juga aktif sebagai Trainer terutama tentang NAPZA dan HIV-AIDS.
Mas Very – begitu sapaan akrabnya, yang menyampaikan tentang The Positive Power mengatakan bahwa orang muda jika ngumpul ga ribut berarti ga ngumpul. Semua hal yang ada di dalam diri orang muda seharusnya diarahkan pada inovasi sikap, gaya, reflektivitas, impian dan harapan, dan apapun yang ada dalam benak orang muda. Menjadi pribadi yang positif, akan bertolak dari persepsi yang kita pergunakan dalam menyingkapi segala persoalan. Ia mendasarkan kenyataan ini pada pernyataan John C. Maxwell ”Mereka yang berpikiran negatif akan menghadapi kekecewaan di masa depan”. Jika kita melihat segala yang kita alami dari persepsi diri kita sendiri sering akan mengalami kebuntuan. Hal ini sejalan dengan filosofi Spirit Moment sendiri yang disadur dari filsafat hati Blaise Pascal: ”hati bisa mengerti banyak hal yang tidak dimengerti oleh otak”. Sebab, dalam pengalaman hidup kita selalu ada alasan untuk berpikir negatif maupun berpikir positif. Dan hal inilah yang kerap menyetir kita pada tindakan yang enggan untuk berubah bahkan cenderung menyalahkan orang luar. Sehingga, kita membuat ukuran-ukuran kita sendiri yang belum tentu sama dengan ukuran orang lain. Ukuran seberapa baik saya menjadi sahabat adalah seberapa besar usaha saya untuk menjadi lebih baik, bukan seberapa sering saya mengharapkan sahabat saya untuk menjadi lebih baik.
Untuk mencari sahabat, melakukan sesuatu, mengimpikan sesuatu jika selalu bertolak dari ukuran yang kita buat ada kemungkinan akan berbenturan dengan hal-hal yang lain. Dalam The Positive Power ini, mas Very menyampaikan 3 [tiga] hal utama dalam menjadi pribadi yang positif yakni: Positive Thinking, Positive Feeling, dan Positive Action. Ketiga kekuatan positif ini tentunya berjalan beriringan dan saling melengkapi. Mother Theresa sempat mengungkapkan satu kalimat pendek ini: “The miracle is not that we do this work, but that we are happy to do it”. Senang merupakan salah satu kekuatan positif tersebut. Kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh. Ia bisa muncul tatkala kita mengarahkan diri kita sendiri untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri. ”Berpikir, merasa, dan bertindak positif akan melahirkan kekuatan positif yang berlipat ganda,” begitu perkataan penutup dari Mas Very.
Pengalaman Menjadi Nyata
Menjadi tua itu pasti, menjadi muda itu pilihan. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Dari berbagai pengalaman dan kenyataan menyatakan bahwa OMK khususnya masih berada dalam pencarian warna dan identitas rumah [kekatolikkan] mereka sendiri. Di antara kebingungan-kebingungan kelompok-kelompok orang muda untuk mencari identitas ini, terselib sebuah kewalahan dari pihak para pastor paroki untuk mewadahi dan menuntun OMK menuju citra katolik yang lebih baik. Lagi-lagi, hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang muda Katolik mudah terbawa pada sesuatu yang lebih menarik di luar katolik sendiri dengan berbagai dalih yang menjadi asumsi buat diri sendiri. Dalih atau asumsi-asumsi tersebut bukan juga tidak beralasan dengan melihat bahwa persaudaraan di antara OMK masih dalam taraf coba-coba.
Bukan mata ini nyata. Sebuah slogan acara di salah satu TV swasta akan membawa kita pada saat dimana kita harus benar-benar menerima kenyataan bahwa OMK masih memupuk gap antara satu dengan yang lain. Satu bukti yang sangat nyata dan kelihatan pada acara Spirit Moment 2, Civita Youth Camp, masih adanya rasa tidak bisa bersama. Alasan yang sangat tidak berdasar kuat yang sering terjadi adalah masalah umur. OMK yang merasa diri sudah cukup berumur sering enggan untuk bergabung dengan OMK yang masih muda [usia SMP dan SMA]. Pertanyaannya: ”Apakah hal ini sungguh menjadi alasan?”. Menurut hemat saya, bukanlah umur yang membuat kita enggan untuk bersama dalam setiap kegiatan. Tetapi benteng asumsi yang sudah kita ciptakan sendiri dari awal. Jika kita memperhatikan lebih cermat lagi, di bagian awal tulisan ini, sangat sengaja petikkan dari I Korintus 13:11 dijadikan sebagai awal pembuka cakrawala untuk kita pikirkan bersama.
Dalam diri, kita sering menyembunyikan Flexibility Passion [gairah untuk fleksibel]. OMK kurang cerdas menempatkan diri pada moment-moment yang berbeda. Di antara rekan-rekan sebaya, OMK bisa melakukan apa saja dengan sangat fun, tetapi akan sangat berbeda jika mereka bergabung dengan rekan-rekan yang lebih muda. Santo Paulus mengatakan ” Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu”. Meninggalkan sifat kanak-kanak bukanlah bahwa saya tidak bisa bersikap seperti kanak-kanak jika saya berhadapan dengan kanak-kanak. Di sini ada sebuah fleksibilitas yang mengarahkan kita untuk justru semakin mengerti bagaimana caranya menempatkan diri di tempat yang berbeda. Rekan-rekan OMK yang berkarya di bagian Bina Iman Anak atau Remaja sangat mengerti bahwa jika mereka tidak bisa menarik perhatian teman-teman muda ini, apapun yang mereka hendak lakukan tidak bisa menyapa secara lebih dalam. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka bersikap sebagaimana rekan-rekan muda tersebut berbuat. Sebab dengan demikian, mereka bisa memenangkan semakin banyak orang muda. Tindakan dan pengalaman seperti ini yang seharusnya semakin nyata dalam hidup bersama kita sebagai OMK.
Menjadi Pribadi Perintis
Kegiatan Spirit Moment 2 ini, sebagian besar dilakukan di luar ruangan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan tidak membosankan rekan-rekan muda. Welcoming Games diciptakan sebagai jembatan yang menghantar rekan-rekan muda pada satu nilai yang paling dasar bahwa untuk mencapai satu tujuan, kita harus melewati jalan-jalan tertentu yang bisa saja menghempaskan kita. tetapi persoalannya bukan pada berapa banyak kita terhempas melainkan berapa banyak kita bangkit dari keterhempasan yang kita alami. Outdoor Activities yang dilakukan dalam kegiatan ini menjadi lanjutan dari welcoming games dan ceramah tentang The Positive Power. Dari seluruh kegiatan ini, team mencoba melihat kembali “sejauhmana rekan-rekan muda yang terdiri dari beberapa paroki ini, mampu menciptakan hal-hal yang baru dalam setiap kegiatan”. Satu hal yang selalu terbaca dengan kasat mata bahwa OMK cenderung berkumpul dengan rekan-rekan yang sudah mereka kenal sehingga kelihatan ada blok-blok kecil. Namun, dalam proses kegiatan yang berlangsung dalam Spirit Moment 2, blok-blok ini semakin mencair dan bersatu.
Gambaran ini hanyalah segelintir dari sekian banyak warna dalam diri OMK. Jika kita melihat lebih jauh, banyak di antara rekan-rekan muda yang sangat susah untuk memulai pembicaraan dengan rekan-rekan yang baru mereka kenal, kendati rekan tersebut ada di depan mata. Sungguh tidak mengherankan jika OMK secara personal masuk di dalam Gereja, tidak ada yang menyapa. Akibatnya mereka merasa sendirian, tidak ada teman, tidak juga berani memulai pembicaraan. Hal inilah yang akan tetap menjadi perhatian kita bersama.
Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak OMK yang berani memilih jalan untuk melayani OMK itu sendiri. Mereka menjadi perintis-perintis yang tidak henti-hentinya menjadi penggerak OMK. Dan siapapun seharusnya bisa seperti mereka menjadi pribadi-pribadi perintis. Sangat tidak mudah memang. Rm. Herry Wijayanto, SJ sebagai Direktur Civita Youth Camp menuliskan email dari Brisbane, Australia ketika kegiatan Spirit Moment 2 ini selesai. “Saya senang acara civita dapat berjalan lancar dan bisa membentuk kesadaran baru. Membuat acara untuk anak muda itu tidak mudah… tidak hanya disuap…tidak hanya bisa mengkritik…bahkan bisa sampai mengeluarkan keringat dan air mata….” OMK penuh dengan dinamika, keinginan dan harapan. Mereka adalah masa depan Geraja. Ini slogan yang selalu didengungkan an tanggungjawab kita untuk mewujudkannya.
Jalan Keluar dari Positive Power
People do not care how much you know till they know how much you care [John C. Maxwell] memperlihatkan satu hal yang harus kita nyatakan bersama. Tunjukkanlah kepedulian anda maka orang-orang di sekitar anda akan peduli dengan ada. Sangat sederhana bukan? Apa yang ingin orang lain perbuat pada kita, lakukan hal yang demikian juga pada orang lain. Kitab Suci sudah menuliskan hal sederhana ini, hanya kerap kita melupakannya begitu saja oleh karena persoalan yang kita hadapi setiap saat. Jalan-jalan sederhana ini, diungkap kembali dalam The Positive Power, yaitu:
[1] jika anda sedang mengalami satu persoalan, berpikirlah dari berbagai sudut,
[2] tidak melakukan judgement,
[3] ada nilai positif dalam segala hal,
[4] bangkitkan rasa empati, ikhlas, dan cinta dalam diri kita.
Dari jalan sederhana ini, kita akan terarah pada tindakan positif. Sebab ingatlah satu hal, untuk mencari 100 orang sahabat mulailah dengan berteman dengan 1 orang. Tetapi sebaliknya, untuk mendapatkan 100 orang musuh, kita cukup memusuhi 1 orang. Mana yang akan kita pilih?
Kegiatan Spirit Moment 2 ini ditutup dengan Misa Bersama yang dipimpin oleh Romo Antoro, SCY, Pastor Pembantu di Paroki St. Stefanus, Cilandak yang bertepatan dengan Hari Raya Rasul Petrus dan Paulus. Rm. Antoro, dalam homilinya, mengatakan “seharusnya OMK meneladani pelayanan Rasul Petrus dan Paulus yang selalu giat mewartakan kabar sukacita, berjalan tanpa kasut, tidak mengenal lelah. OMK jangan sedikit-sedikit saja menghadapi halangan langsung mundur dan tidak mau bangkit lagi”.
Seorang bijak mengatakan waktu terbaik pertama untuk menanam pohon kelapa adalah sepuluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah saat ini. Maka, rekan-rekan muda, marilah kita menjadi pribadi perintis dan pribadi yang positif mulai dari saat ini. You can do something to make a change, sekecil apapun![]
Rabu, 18 Juni 2008
Ekaristi Emaus Sahabat Muda [EMSAM]
Pengantar
Kepedulian terhadap jiwa orang muda yang menginginkan tempat, ekspresi dan kreasi mendorong kita untuk menciptakan sesuatu yang fresh dalam konteks Perayaan Ekaristi dengan tetap memperhatikan kaidah: tanda, kata dan tindakan yang resmi sekaligus tetap menjiwai sisi terdalam Ekaristi yakni pemuliaan [glorify] Allah dan pengundusan [sanctify] manusia oleh Allah.
Dengan memperhatikan kerinduan ini, maka dibuatlah format Ekaristi Emaus Sahabat Muda
yang lebih lanjut akan disebut EMSAM. Disebut EMSAM karena terlahir dari perjalanan orang muda yang dinamis sebagaimana peristiwa emaus yang memperlihatkan gambaran orang-orang yang mengalami kehadiran Allah di tengah perjalanan dan sekaligus di tengah pertanyaan-pertanyaan akan kasih Allah.
Sangatlah bisa dipahami jika orang-orang muda merasa kurang tertarik dengan gaya Ekaristi yang biasa dilakukan. Hal ini terjadi bukan karena format Ekaristi yang sangat konstitusional atau gaya homili yang bervariasi [tergantung Persona Christi- nya] melainkan oleh perubahan aura zaman [interese zaman] dan pemahaman yang tidak mendalam akan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman orang Katolik. Sehingga sangat tidak mengherankan lagi jika pada saat Perayaan Ekaristi akan terlihat berbagai kesibukkan yang
berbeda. Jika anda pernah mengikuti Perayaan Ekaristi dan di belakang, depan, atau samping anda ada orang-orang yang begitu asyik ngobrol seperti di mall atau bermain handphone dan seakan tidak memperdulikan bahwa orang lain akan terganggu oleh sikap mereka. Dan sangat bisa dipahami jika mereka pulang tidak menemukan apa-apa dan lama kelamaan mereka boring, itu-itu saja, tidak ada yang berbeda. Akibat yang paling jauh adalah mereka mulai menjauhi Gereja dengan dalih yang mempersalahkan struktur, gaya, sikap-sikap faktor eksternal dan bukan melihat pada keterlibatan diri mereka sendiri pada perayaan dan iman.
Aura zaman atau interese zaman memang telah berubah. Diam, tenang, mendengarkan, mengikuti, menyelami, masuk ke dalam hati dan banyak sisi terdalam lainnya sangat susah untuk disentuh. Sebab zaman menawarkan „yang berkeriapan“, berubah, dan harus dikejar. Hal ini memperlihatkan adanya motion [mobilisasi] yang sangat tinggi sehingga untuk menjadi tenang dan diam sangat menakutkan. Buktinya: sekian banyak orang-orang muda yang tidak bisa lepas dari yang hingar-bingar, handphone, mp3, mp4, internet, shoping, mall, dan pesona konsumerisme lainnya.
Maka, mungkin dengan membaca narasi gaya hidup orang muda ini, pemahaman adalah jalan
yang pertama dan menemani ekspresi dan beban psikologis merupakan langkah lanjutannya. Jiwa Ekaristi sebagai puncak perayaan iman jangan sampai tidak menggema dan senyap.
Perayaan Puncak: Ekaristi
Perayaan Ekaristi bukanlah ajang menarik-tidak menarik atau dikomentari karena kita tidak menemukan yang kita inginkan pada akhirnya. Perayaan Ekaristi adalah pancaran pertemuan manusia dengan Tuhan pada sisi yang sangat spiritual. Jika seseorang masuk dalam Perayaan Ekaristi dan tidak mengangkat sisi spiritual yang ada dalam dirinya untuk bertemu dengan Allah, maka pertemuan tidak akan pernah terasa lebih dalam. Kenapa? Karena Allah yang spiritual hanya akan bertemu dengan manusia yang spiritual. Dan hal ini bukan mengawang-ngawang. Karena sesungguhnya manusia memiliki sisi spiritual yang dalam, hanya kerap tertekan oleh keinginan yang memanipulasi sisi terdalam ini. Jika anda pernah merasa begitu tenang tetapi tiba-tiba berubah hanya karena ada telpon atau orang yang menyapa anda dengan ekspresi yang tidak menyenangkan dan kemudian disposisi hati anda berubah, inilah tandanya.
Sangat tidak mengherankan bahwa ada orang-orang yang begitu menghayati Ekaristi dan menemukan kekuatan di dalamnya dan ada orang-orang yang sebaliknya. Orang-orang yang begitu menghayati itu melibatkan segenap sisi spiritualitasnya untuk bertemu dengan Allah yang spiritual. Sehingga mereka mampu mengalami dan membagikan Allah dalam cara-cara yang sederhana. Anda tidak akan mungkin bertemu dengan Allah yang spiritual jika anda mengedepankan sisi manusiawi anda yang sangat lahiriah. Sisi yang sangat lahiriah itu adalah
keinginan anda untuk menemukan Allah tetapi cara yang tidak tepat atau menjadikan Ekaristi sebagai rutinitas, ajang mencari dan menemukan orang, tempat janjian, dan lain sebagainya.
Sisi spiritual harus bertemu dengan sisi spiritual. Dalam analogi lain yang sangat sederhana. Jika anda berbicara dengan siapapun dan mereka tidak menjawab anda dengan alur harapan anda, anda pasti akan bereaksi berbeda. Akibatnya adalah anda mungkin akan berbicara lebih baik atau mengubah sikap anda sesuai dengan daya pemahaman orang yang anda hadapi. Jika tidak maka misunderstanding sudah jelas menjadi ujungnya. Atau pernahkah anda menyadari ”mengapa orang marah cenderung berteriak untuk menyampaikan sesuatu atau dengan ekspresi yang berubah?” karena hati sudah tidak searah, menjauh, tidak saling mengerti dan tidak saling menyapa!
Ini yang akan terjadi tatkala sisi spiritual anda tidak keluar, terangkat dan mengarah untuk menyambut Allah yang spiritual dalam Perayaan Ekaristi. Lagi-lagi, hal ini tidaklah mengawang-ngawang.
Maka, ada sesuatu yang harus diarahkan lebih dari diri kita untuk bertemu dengan Allah dalam Perayaan Ekaristi. Sebab, jika kita masih menggunakan kebiasaan lama pada saat perayaan, maka kita sebagai peraya dalam undangan perjamuan ilahi tidak akan menghidupi apa-apa selain kekeringan dan rutinitas. Mungkinkah anda masih mempertanyakan ”apakah kebiasaan lama itu?” untuk menjawabnya, cobalah perhatikan orang-orang tertentu yang datang pada Perayaan Ekaristi dan apa yang mereka lakukan. Kemudian sapalah mereka, jika selama ini anda tidak biasa dan bisa memulai untuk menyapa lebih duluan.
Perayaan Ekaristi sebagai Puncak Perayaan Iman tidak akan pernah terasa berbeda jika kita sebagai peraya tidak pernah mengubah cara kita berbicara dan bertemu dengan Allah yang spiritual.
Emaus Sahabat Muda
Emaus Sahabat Muda merupakan sebuah perjalanan yang dilakukan oleh orang-orang muda secara bersama-sama dalam menemukan iman sejati akan Allah. Dalam perjalanan itu, mungkin saja orang muda tidak/kurang menyadari kehadiran Allah dalam setiap detik hidup mereka.
Mungkin saja orang muda menyangkal kebersamaan hidup dengan Allah karena tidak bisa menalar. Mungkin saja orang muda merasa Allah begitu jauh dari hidup mereka oleh karena setiap pengalaman terpuruk yang mereka alami. Seakan tidak ada jawaban atas permasalahan kehidupan mereka.
Dalam keseluruhan permasalahan hidup itu, satu pertanyaan yang harus kita jawab dengan memasuki batin dan dalam keheningan terdalam hidup ini. ”Apakah kita bisa melalui semua itu hanya oleh kekuatan kita sendiri?” jika anda terbelalak dan kemudian menyadari bahwa segala persoalan hidup yang terjadi tersingkapi satu demi satu oleh karena kemurahan ilahi melalui orang-orang yang ada di sekitar anda, maka seharusnya anda mengerti bahwa Allah berkarya dalam hidup anda. Sebab tidak ada sehelai rambut pun yang akan tercabut dan jatuh tanpa sepengetahuan Allah.
Maka, silahkan anda berlari dari hadapan Allah bahkan melukai hidup anda karena ”merasa” Allah jauh dari hidup anda, tetapi ketahuilah Allah akan menarik anda pada saat yang Ia kehendaki buat anda. Ini hanyalah segelintir gambaran perjalanan [emaus] orang-orang muda. Masih banyak kisah yang seakan mencabut hidup secara paksa dari raga kita. Tetapi itu
bukanlah pertanda bahwa Allah ”tidak ada” dalam hidup kita, melainkan justru supaya kita semakin dekat untuk mencari Allah yang ”tidak ada” itu.
Dalam perjalanan hidup itu, tidak bisa kita sangkal bahwa ada banyak orang yang terlibat dalam hidup kita. Mereka itulah sahabat-sahabat yang hidup dan peduli akan kehidupan kita. Dari mereka kita belajar, mengerti dan mengalami hidup. Maka, EMSAM menghadirkan semua unsur-unsur di atas dan menyatukannya dengan perjalanan hidup ilahi, Yesus Kristus sang Penyelamat. Pengenangan, menghadirkan, dan menyatukan hidup kita dengan Allah dalam Perayaan Ekaristi merupakan jalan menuju keselamatan abadi bersama Allah.
Skema Ekaristi Emaus Sahabat Muda
EMSAM secara keseluruhan akan memperlihatkan sebuah perjalanan yang menunjukkan dinamika hidup peraya. Dan untuk merasuk lebih dalam menuju kesatuan dengan Allah maka lagu-lagu dan alat musik yang dipergunakan sangat menentukan dalam membangun sebuah situasi yang kondusif. Seharusnya alat-alat musik daerah seperti gendang, tifa, dan lain-lain akan sangat bagus untuk membangkitkan sisi ini bukannya drumband yang cenderung meng-crash [menabrak] situasi. Dengan demikian, kita juga mengangkat aspek inkulturasi dengan alat-alat musik itu dan membangkitkan jiwa kita sebagai peraya di suatu tempat.
...............................................skema inconceptio.................................................................................
Jumat, 13 Juni 2008
Minggu, 08 Juni 2008
Pertemuan Sabtu, 7 Juni 2008
Pada pertemuan ini dibicarakan lebih terperinci apa
yang hendak kita lakukan pada acara Spirit Moment [lanjutan] pada 28-29 Juni 2008 di Civita Youth Camp. Seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, format acara telah dibuat sedemikian rupa. Tetapi ada sebuah pemikiran baru apakah ada kemungkinan menghadirkan kembali “zona kreatif” yang pada 19-20 April yang lalu pernah dilaksanakan, dimana terjadi sebuah “kebingungan” untuk harus melakukan apa. alasannya adalah banyak teman-teman muda yang ikut dalam suatu acara dengan hanya mengikuti alur acara yang sudah dibuat. Sehingga kerap daya kreativitas dan greget yang besar dari orang muda sering “biasa-biasa saja”. Selain itu, ada alasan lain yang rupanya sehrusnya menjadi perhatian bahwa kita sering berkomentar tentang acara yang tidak menarik sehingga kita malas untuk mengikutinya, tetapi tatkala diberikan kesempatan untuk menyusun sebuah acara yang menarik, kita sering kebingungan. Hal ini akan menjadi perhatian!Pada kesempatan ini, dipilih koordinator-koordinator yang memikirkan secara lebih terperinci bagian-bagian acara tertentu, sedangkan yang lain akan menjadi personil yang membantunya:
Welcoming Games akan dikoordinir oleh Steve.
Perkenalan dikoordinir oleh Nicko, Agnes, dan Nikita
Seminar dikoordinir oleh Ollyn
Dinamika Kelompok dikoordinir oleh Ollyn
Bangun dan Olahraga dikoordinir oleh Bene dan Ester
Outdoor dikoordinir oleh Mario dan Pulung
Ekaristi Kaum Muda dikoordinir oleh Agnes dan Lia
Pertemuan selanjutnya adalah untuk menguji berbagai games yang akan dipergunakan sekaligus melihat perkembangan persiapan masing-masing koordinator. Pertemuan ini masih akan menunggu konfirmasi dari sdr. Ollyn ; mengingat seberapa banyak teman-teman yang bisa hadir. Sangat diharapkan pada teman-teman yang pernah datang pada beberapa kali pertemuan sebelumnya datang pada kesempatan ini.
Teman-teman yang pernah datang pada Spirit Moment tanggal 19-20 April 2008 yang lalu akan segeran dikontak kembali untuk ikut berpartisipasi pada kegiatan tanggal 28-29 Juni mendatang.
Brosur yang akan disebarkan telah dibuat tinggal pencetakkannya saja, tetapi melalui resume pertemuan ini pun, brosur acara diikutsertakan. Harap teman-teman memperhatikannya.
Selasa, 03 Juni 2008
Pengumuman Acara
Sekaligus kita akan bertemu dengan Mas Tony Sarjono cs untuk membahas startegi kegiatan ini supaya lebih bagus dan menarik.
Ini adalah undangan buat teman-teman.
I wait you all!
Best regard,
DS Ollyn Zb.
Senin, 02 Juni 2008
PERTEMUAN TANGGAL 1 JUNI 2008
Sebagai kelanjutan pertemuan tanggal 18 Mei 2008, maka dirancang kerangka acara yang lebih komplit sebagai berikut:
► Welcoming games[16.30-17.30]: semacam games yang disusun sebagai rintangan awal bagi para peserta yang datang. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa siapapun yang datang harus melewati rintangan-rintangan dalam games ini sebagi tanda “inisiasi” setiap peserta bergabung dengan teman-teman yang lain dan di sana terdapat kesungguhan akan adanya sesuatu yang penting buat perkembangan kita bersama.
► Perkenalan [17.30-18.30]: setelah melewati games rintangan, kita akan masuk dalam perkenalan dan sekaligus pembentukkan kelompok. Kegiatan ini dilaksanakan di luar ruangan. Perkenalan dirancang sedemikian rupa untuk membangun keakraban.
► Mandi dan Dinner [18.30-19.00]: self service [makan dan cuci peralatan makan sendiri].
► Seminar [20.00-22.00]:acara ini direncanakan akan dibawakan oleh Mas Tony Sarjono [cs?] yang sering memberi pelatihan leadership di beberapa tempat. Tentunya akan diselingi dengan hal-hal menarik semacam exercises.
► Dinamika kelompok [22.00-24.00]: dibentuk dalam kerangka api unggun dan disekelilingnya dibentuk kelompok-kelompok sharing. Pada kesempatan ini juga akan ditampilkan kreativitas masing-masing kelompok dan akhirnya ditutup dengan renungan malam [bisa dalam bentuk Ibadat Taize, Rosario yang dibuat menarik, dll].
► Istirahat Malam [tidur].
► Bangun dan Olahraga [06.00-06.30]: sendiri atau bersama?
► Renungan Alam Pagi [06.30-07.00]: bersama.
► Breakfast [07.00-08.00].
► Outdoor [08.00-10.00]: membangun sebuah teamwork dan kepercayaan, saling membela, mendukung, dan memimpin.
► Persiapan Ekaristi Kaum Muda [10.30-11.30]: dirancang dengan gaya orang muda.
► Ekaristi Kaum Muda [11.30-12.30].
► Makan Siang dan Sayonara.
Beberapa hal yang masih dipikirkan adalah rundown acara secara lebih terperinci. Maksudnya adalah siapa yang akan menjadi fasilitator pada setiap acara yang berbeda. Karena acara ini bertujuan sekaligus untuk memberi kesempatan kepada teman-teman untuk mencoba memimpin dan menjadi pemimpin. Yang kedua, berhubung dengan adanya seminar yang dibawakan oleh Mas Tony cs, tentunya adiperlukan adanya kerjasama untuk membentuk acara lebih mengalir dan mengarah pada tujuan yang hendak dicapai. Sehingga perlu adanya pertemuan dengan Mas Tony untuk memfikskan acara ini.
Pembentukkan pamflet sedang dalam rancangan dan dibuat sesederhana mungkin dengan mengikut-sertakan beberapa contact person dari teman-teman yang berbeda tempat. Mereka adalah Mas Mario: 021-92029033 [Blok B], Mas Sulis: 021-91017092 [Bintaro], Mas Bene: 081384405820 [Cilandak], Nicko: 08567896233 [Barbanas], Sekretariat Civita [Mba Hanny: 021-7401521].
Penyebaran pamflet ini akan dimulai pada 7 Juni sedangkan acaranya pada 28 dan 29 Juni [sabtu-minggu]. Sehingga, pendaftarannya bisa melalui contact person tersebut sekaligus dengan iuran untuk mengikuti acara sebesar Rp. 10.000,- per orang. Alasan kenapa dipungut iuran ini adalah:
► Civita memberi fasilitas yang lumayan besar, sehingga setidak-tidaknya kita bisa meringankannya dengan iuran tersebut.
► Jika kita hangout aja bisa mengeluarkan duit lebih besar, kenapa kita tidak bisa mengeluarkan duit sebesar itu untuk bertemu dengan teman-teman seiman, mengadakan acara bersama, persaudaraan, saling mengenal, dan pada akhirnya pasti membawa hal-hal yang luar biasa.
► Bicara saja tidak akan mengubah situasi, mari kita mewujudkan persaudaraan dengan langkah-langkah kecil.
Perhatian:
Banyak sekali yang melontarkan komentar sebelum mengetahui hal yang sesungguhnya. Atau mungkin, kita telah lama menghidupi asumsi-asumsi sehingga untuk melangkah dan bergabung begitu susah untuk dilakukan. Mari nyatakan jiwa muda dengan laku bukan dengan menunggu!
PERTEMUAN TANGGAL 18 MEI 2008
► Sebagai kelanjutan dari Spirit Moment [SM] maka awalnya acara direncanakan pada 14-15 Juni namun kemudian berubah menjadi minggu terakhir di bulan Juni [sabtu-minggu 28/29].
► Spirit Moment akan dilanjutkan dengan Leadership Moment [LM].
► Kerangkan acara LM yang direncanakan adalah:
1. Ada seminar leadership [Mas Tony cs]
2. Selingan-selingan dan games
3. Doa malam di alam terbuka [misa atau doa rosario dengan perarakan]
4. Olahraga
5. Pemutaran film tentang Bunda Maria
6. usu-usul lain [?]
► Civita akan menyediakan fasilitas [tempat] dan untuk membantu acara ini direncanakan masing-masing peserta akan memberi iuran Rp. 10.000,- per orang.
► Diusahakan acara-acara yang akan diadakan bisa menghasilkan sesuatu buat orang muda misalnya membentuk anggota koor, misa kaum muda, dan sesuatu yang berguna lainnya.
► Pembuatan kerangka pamflet yang dikoordinir oleh Very dan Beno.
Rabu, 21 Mei 2008
Minggu, 18 Mei 2008
Sejenak Pemikiran Kelanjutan Spirit Moment
Dalam pertemuan itu, kita membicarakan tentang kelanjutan acara spirit moment yang rencananya akan diselenggarakan lagi pada bulan Juni mendatang. Kita mencoba membuat kerangka acara yang akan dilaksanakan dan juga memikirkan apa yang harus kita lakukan secara lebih sistematis. Siapa mengerjakan apa. Secara keseluruhan ada beberapa kerangka yang dibicarakan yaitu: games leadership, seminar, doa tengah malam, olah raga, yang tentunya masih akan digodok dengan lebih bagus lagi.Kita juga sempat membicarakan agar acara ini jangan hanya berlalu begitu saja, tetapi sebaiknya muncul hal-hal yang khas, yang membuat teman-teman muda selalu ingin datang ke Civita. Selain itu, juga sangat mengharapkan agar dalam rentetan acara ini akan menghasilkan sesuatu yang berarti untuk kebangunan acara dan kelanjutannya. Kita akan mengadakan pertemuan lagi pada 1 Juni 2008 pukul 14.00 wib.
Kamis, 01 Mei 2008
The Soul of the Youth



Mencari jawab atas hidup yang berkelindan
Mengarahkan harap pada rasa mendalam
Persaudaraan yang bukan hanya kata
Civita Youth Camp mengidungkan Gema Jiwa Muda dalam tema ”The Soul of the Youth”. Acara ini diadakan pada 19-20 April 2008 dengan menciptakan acara tanpa acara. Seakan tidak ada kegiatan, tetapi kegiatan ini berkelindan sampai akhir dengan meluapkan kerinduan Kaum Muda Katolik akan hidup menggereja. Gema Jiwa Muda yang seakan memasuki zona asing akan rumah sendiri adalah rasa yang akhirnya terbagi dan terlontar dari kerinduan itu.
Gema Jiwa Muda mulai menyusuri tepian harapan. Menginginkan perjalanan hidup yang indah sekaligus memadukan tenaga, semangat, dan pandangan hidup untuk berkreasi dan menjadi citra ilahi.
Nantikan pertemuan berikut!


